Categories
Resep

Yuk Cobain Beraneka Mie Ayam Lezat dan Nikmat

Layaknya gaya berbusana dalam dunia fashion, pakaian. Hal itulah yang dilakukan Nurcharani (25), pemilik Mie Ayam Janoko. Perempuan yang akrab disapa Rani ini, berani menciptakan sajian mi sambil memadumadankannya bersama lauk-pauk seperti berjualan nasi rames. Terobosannya ini membuat Rani berhasil meraih sukses di usia belia.

Baca Juga: 8 Tips Menghemat Biaya Pernikahan

Menjual mi yang lezat dan berkonsep. Itulah yang ada di benak Rani ketika berniat membuka usaha kuliner. Sangat kebetulan sang ayah, Abdul Chaer (52) yang koki di sebuah hotel memiliki kepandaian membuat mi sehingga ia bisa berguru kepadanya.

Butuh waktu 6 bulan untuk menemukan formula mi yang tepat. Punya mi yang enak saja, belum cukup. Rani ingin menjual mi yang punya konsep kuat sehingga selalu dicari pembeli. Ia pun lantas menganalisis rencana usahanya secara kecil-kecilan. Misalnya, dengan melihat kompetisi pedagang mi di pasaran saat ini.

“Penjual mi banyaknya bukan main,” tutur Rani yang saat itu masih duduk di bangku kuliahan, jurusan manajemen pemasaran di sebuah perguruan tinggi swasta. Rani juga mencoba mengamati pola makan masyarakat secara umum. Ia melihat betapa tergantungnya orang Indonesia dengan nasi.

Makanan pokok ini disantap bersama berbagai lauk dan lauk tersebutlah yang dinikmati orang ketika makan nasi. Jadi, kalau ia ingin orang mengganti nasi, maka mi yang dibuatnya pun harus disajikan bersama berbagai lauk, mulai dari olahan seafood, tumisan, hingga hidangan yang dipanggang seperti ayam.

Dipadu Cumi Hitam Hingga Jambal Mengombinasikan beragam masakan untuk disantap bersama mi diibaratkan Rani seperti menyantap nasi bersama lauk-pauk. “Idenya adalah mengganti nasi menjadi mi, namun disuguhi bersama berbagai pilihan lauk,” tutur anak tunggal ini. Pemilihan lauk untuk mi diawali Rani dari hidangan favoritnya di rumah. Misalnya, cumi masak hitam.

Dari menu yang kerap dimasak sang ibu di rumah itu, ia menciptakan mi selimut hitam. Cumi tak hanya disajikan sebagai toping, mi-nya juga diaduk dengan bumbu dari olahan tinta cumi tersebut. Cumi yang dipakai berjenis sotong.

Bagian kepala dan badan sotong ikut disajikan sebagai lauk utama bersama mi. Selain mi selimut hitam, Rani menawarkan mi yang disantap bersama ayam panggang, jambal petai, saus padang, tumis cabai pedas, teri balado, teriyaki, yakiniku, ayam krispi, hingga sosis, dan ayam carbonara.

Porsinya cukup besar seperti layaknya porsi nasi. Rata-rata per mangkuk berisi 100 gram mi dan dijual Rp 13 ribu. Meski sudah disajikan seperti nasi, Rani memilih berjualan di gerobak bergaya mi ayam. Mereknya pun mengusung nama “mi ayam”.

Namun tak akan kita temukan tumisan ayam yang kerap jadi toping sajian mi ayam. Untuk racikan minya pun, dibuat tetap sama dengan mi ayam pada umumnya. Setelah diseduh, mi diberi minyak ayam, merica, dan kecap asin.

Toping Mie Ayam

Toping standarnya juga ada yaitu rebusan sawi dan irisan bawang daun. Pakemnya juga tidak diubah. Mi disajikan bersama kuah kaldu secara terpisah. Setelah itu pembeli memilih lauk yang akan dihidangkan bersama mi.

Kalau memilih toping ayam panggang, maka pembeli akan mendapat mi standar di atas lantas ditambahkan ayam panggang yang dibuat dari fillet dada ayam yang dipanggang bersama bumbu bakar beraroma tomat. Lalu untuk pilihan carbonara, teman santapnya berupa potongan ayam dalam bentuk dadu, dikombinasikan campuran sosis.

Pada menu mi ayam krispi, Rani meracik potongan ayam goreng tepung renyah yang disiram saus barbekyu. Sedangkan tumis jambal pete mengandalkan minyak jambal yang diaduk dengan mi, lalu disantap lengkap dengan irisan petai dan potongan jambal asin. Rani juga memberi pilihan pada minya. Selain mi yang biasa, kini ada pula mi yang adonannya dikombinasikan dengan bayam dan keju hingga wortel.

Dari Garasi, Punya 2 Cabang Usaha sukses ini tentu diawali perjuangan. Dua tahun sebelum membuka usaha mi, Rani dikenal sebagai pedagang tas di kampusnya. Mulai dari dosen, temah kuliah, tetangga, hingga saudara dan temanteman main di sekitar rumahnya, menjadi pelanggannya. Tas yang dijual Rani diambil dari salah satu saudaranya

Awal Mula Berjualan Mie Ayam dan Punya Gerobak

Ia mengumpulkan hasil keringat berjualan tas hingga tak terasa tabungannya mencapai Rp 15 juta. Uang inilah yang dijadikan Rani untuk membuat gerobak sederhana untuk berjualan mi dan membeli bahan baku.

Dibantu sang ibu, pada tahun2007 ia mulai berjualan mi di garasi rumahnya dan langsung berpromosi ke sana kemari. Seperti membawa tester untuk dibagikan pada dosen, teman kampus, hingga tetangga. Pesanan pun mulai bermunculan saat itu. Ia juga berjualan secara bergantian bersama sang ibu jika jam kuliah sudah tiba karena gerobaknya sudah dibuka dari pukul 11 siang hingga 22.00 setiap hari.

Nama Janoko yang diambil dari nama Arjuna itu kini jadi favorit di kalangan anak muda hingga orang tua. Usahanya makin berkembang kala ia mulai mengikuti pameran hingga salah satu dosennya mendaftarkan pada sebuah ajang Wirausaha Muda Mandiri.

Ia juga mencari kesempatan untuk berjualan di kantin kampus dengan sistem bagi hasil sebesar 15 persen pada pemilik tempat yang berjualan minuman.

Usahanya makin dikenal seiring dengan kegigihannya melebarkan sayap usaha. Misalnya, dengan mencari lokasi jualan yang strategis. Seperti membuka cabang di kawasan dekat kampus, sekolah, dan perkantoran di kawasan Pamulang, hingga cabang lainnya yang berlokasi di jalan masuk menuju perumahan. Kini ia memiliki dua cabang. Sedikitnya 120 mangkok mi terjual setiap hari. Nah, sekali lagi terlihat bahwa konsep yang kuat akan membuahkan hasil yang manis. Anda juga bisa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *